Sabtu, 19 Desember 2015

Inspirasi dari DevTalk TechInAsia

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali

Tampaknya dari sekian seminar yang Aku ikuti, DevTalk ini (Kamis, 17/12/15) termasuk yang berkesan. Pasalnya, yang hadir sebagai pembicara adalah master-master jagad programming.

Sesi pertama diisi oleh Google Developer Expert (Android) Indonesia, yaitu Sidiq Permana dan Ibnu Sina Wardi. Mereka membawakan Highlight of Android Dev Summit 2015 di San Francisco. Ada beberapa tips programming yang diajarkan antara lain data binding di Android. Dibahas juga mengenai leletnya Android Studio :)

Sesi pertama disambung oleh Programmer Andal OLX, yaitu Nurendratoro, yang membahas tentang Model View Presenter, suatu struktur pemrograman Android yang efisien dan mudah dimaintenance.

Setelah tanya jawab, lanjut sesi kedua. Giliran Programmer Tokopedia yang masih muda belia yang menyebut dirinya Minions Squad, yaitu Rico Harisin dan Tonito. Mereka berhasil memecahkan bagaimana agar notifikasi di Tokopedia tidak delay lagi. Rekornya, 40 ribu notifikasi per jam!

Presentasi pamungkas dibawakan oleh Programmer Aplikasi yang lagi naik daun, Go-Jek. Mereka terdiri dari Hianto Hendry, Rama Notowidigdo, dan Bherly Novrandy. Hal yang menarik dari Go-Jek, adalah mereka harus memproses data dari berjuta-juta aplikasi dan ratus ribu driver Go-Jek, tanpa hambatan besar.

Ada beberapa inspirasi yang dapat ditarik dari DevTalk TechInAsia ini. Pertama, ternyata sebuah aplikasi tidak sesederhana penampakannya. Butuh usaha dan inovasi yang luar biasa untuk membangunanya. Kedua, jika ada kemauan, anak Indonesia pun bisa. Salah dua yang dibutuhkan adalah Doa dan semangat pantang menyerah.

Akhirnya, thanks to TechInAsia yang sudah nyelenggarain DevTalk ini.

Kamis, 17 Desember 2015

Ketemu Pengemudi Grab Bike di Sevel

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Akhirnya hujan turun juga. Aku mengedarkan pandangan, mencari tempat kemana hendak berteduh.

“Aha, ada Sevel”. Dengan berlari kecil Aku menuju salah satu kursi yang ada di pelataran 7 eleven.

Tak lama kemudian, seorang Pengemudi Grab Bike (sodaranya Go-jek) ikut berteduh.

Jadilah ia ajang wawancara.

Aku: “Mas, gimana pembayaran di Grab Bike?”
PGB: “Kalo penumpang bayarnya 12 ribu kemana aja, sedangkan pengojek dapatnya 4 ribu per km.”
Aku: “Wah lumayan donk, biasa dapat berapa?”
PGB: “Gak tentu Mas, kalo rajin sih bisa dapat sampai 1,5 an seminggu.”
Aku: “Banyak juga ya. Boleh ga Mas, hari ini narik besok ga, atau libur barang seminggu?”
PGB: “Kalau libur harus ijin dulu Mas.”

Wihh.. pake ijin segala, kirain sekehendak hati pengojek. Kan motor-motor dia :) Gak jadi daftar deh...

Aku: “Biasa yang order dekat-dekat ya Mas?”
PGB: “Iya, dalam jarak 1 km, kadang-kadang 2 km juga kalo ga ada yang ngambil?”

Gak lama kemudian, HP androidnya bergetar. Tampaknya ada yang mengorder.

Aku: “Mas, bayarannya beda ya kalo ujan?”
PGB: “Hehehe, sama aja Mas.”

Tampaknya ojek online tahan terhadap cuaca, beda dengan ojek pangkalan yang tarifnya tergantung cuaca, bahkan tergantung siang atau malam, atau tergantung penampilan calon penumpang.

Si Mas PGB (Pengemudi Grab Bike) kemudian pamit sambil tersenyum :)

Senin, 14 Desember 2015

Uji Rasa Syukur Anda di Sini

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Apakah Anda termasuk orang yang suka bersyukur?

Hanya Anda yang tahu.

Tapi tahukah Anda bahwa pada sebagian kasus, seseorang sering menyangka ia adalah pribadi yang bersyukur, padahal sejatinya belum.

Ok, untuk menguji rasa syukur kita, dibutuhkan sebuah kertas HVS putih ukuran A4 atau F4 dan sebuah spidol.

Sekarang, angkat kertas putih persis di hadapan Anda. Apa yang Anda lihat?

Betul, yang terlihat adalah secarik kertas putih bersih.

Sekarang beri titik menggunakan spidol di bagian mana saja dari kertas putih tersebut. Lalu angkat persis di hadapan Anda seperti sebelumnya.

Sebutkan apa yang Anda lihat?

“Saya melihat sebuah noda hitam di atas selembar kertas putih”. Sebagian besar kita akan mengatakan seperti ini.

Hanya sebagian kecil yang akan berkata begini, “Alhamdulillah, masih banyak bagian putihnya ketimbang noda hitamnya.”

Menurut Anda, diantara kedua jawaban di atas, siapakah pribadi yang paling banyak bersyukur?

Sabtu, 12 Desember 2015

Penumpang di Atas Gerbong

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Dalam ilmu kedokteran, untuk mengatasi penyakit setidaknya dua cara, yaitu mengobati gejala yang timbul dan mengobati penyebabnya. Kedua cari ini harus dilakukan baik secara bersama-sama maupun berurutan, tergantung situasinya. Pengobatan yang bertujuan hanya mengobati gejala tanpa mengobati penyebabnya mengakibatkan penyakit tak kunjung usai, hilang timbul.

Sebenarnya fenomena ini tidak hanya berlaku dalam dunia medis, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh gejala penumpang KRL Jabodetabek yang suka nangkring di atas gerbong. Perilaku ini sudah banyak menimbulkan korban jiwa, baik karena terjatuh ataupun karena tersengat listrik tegangan tinggi. Walaupun demikian, para penumpang nekat tak juga kapok.

Berbagai cara dilakukan untuk mengatasinya, mulai dengan mengusir dengan tongkat rotan, menyemprot dengan cat, bahkan ada ide untuk memasang palang kayu. Tapi hampir semuanya tidak berhasil. Apa pasal? Karena tujuan pengobatan hanya untuk mengatasi gejala ‘nangkring di atas atap’.

Baru setelah naik Direktur KAI yang baru yang belakangan menjadi Menteri Perhubungan, pengobatan diarahkan juga ke penyebab penumpang nangkring di atas gerbong. Beberapa yang bisa saya amati adalah:
  1. Menghapus sistem kelas ekonomi dan kelas express. Semua KRL harus singgah di setiap stasiun. Dulu, kelas eksekutif hanya singgah di stasiun tertentu dan memaksa KRL kelas ekonomi untuk ngetem di stasiun antara untuk memberikan jalan ke KRL kelas express lewat.
  2. Pedagang kaki lima dilarang berjualan di dalam stasiun.
  3. Hanya orang yang memiliki karcis / kartu yang boleh masuk stasiun.
  4. Membuat sistem tiket elektronik.
  5. Tidak ada lagi KRL yang tidak berpintu dan tidak ber AC.
  6. Mengatur rute dan jadwal sehingga keberangkatan kereta menjadi lebih sering.

Bagaimana dengan hasilnya? Bisa kita lihat sekarang, tak ada lagi penumpang di atap gerbong dan perjalanan dengan KRL sudah lebih nyaman.

Tabungan Dengan Bunga Tertinggi

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Berapa jumlah bunga atau bagi hasil tabungan di bank per tahun?

Pasti ga bakalan nyampe 20% bukan?

Artinya jika tabungan kita satu juta kita simpan selama satu tahun, maka keuntungan kita ga sampai 200 ribu.

Sebenarnya ada tabungan dengan bunga sangat tinggi, mencapai 700%.

Pasti pada ga percaya ...

Awalnya juga saya tidak percaya, karena rasa-rasanya mustahil ...

Tapi harusnya kita percaya, karena semua pada percaya pada Allah bukan?

700% persen itu manfaat yang kita peroleh dari tabungan kita di jalanNya.

Harap diingat, bahwa manfaat senilai 700% di sini bukan hanya finansial, tapi juga kesehatan, ketenangan hati, terhindar dari bala, kebahagiaan, dan sebagainya.

Masih ga percaya, silakan buktikan sendiri ...

Senin, 02 Februari 2015

Miskomunikasi di Ruang Rawat

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Sudah berulangkali saya mendapat cerita yang yang sama, pasien mengeluh karena merasa tidak ditindaki atau dicueki oleh dokter atau perawat. “Masa cuma diinfus saja”, tidak diapa-apai”, keluh pasien.

Pada beberapa kasus, ketika berkunjung saya menyempatkan diri untuk ke ruang jaga, tanya bagaimana keadaan pasien dan apa tindakan yang sedang dan yang akan dilakukan. Ternyata, lewat infus dimasukkan antibiotik, antimuntah, antidemam, dan berbagai macam obat. Rencana tindakan hanya observasi. Visite atau kunjungan dokter pun sesuai kebiasaan, yaitu untuk rawat inap hanya di pagi hari, kecuali ada keadaan tertentu.

Perlahan saya jelaskan ke pasien atau keluarganya, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Umumnya sebagian besar pasien atau keluarganya menjadi maklum. Tak lagi ‘panas’ dan merasa diabaikan.

Benang merah dari beberapa kejadian adalah, ada informasi penting yang tidak mengalir dari petugas medis ke pasien atau keluarganya. Mengapa bisa terjadi?

Bisa jadi petugas medis tidak komunikatif. Memang ada dokter yang kurang bisa berkomunikasi atau karena rutinitas menghadapi pasien yang puluhan kali per bulan, maka proses penjelasan penyakit terlewatkan. Akhirnya, setelah melakukan pemeriksaan atau tindakan, dokter atau perawat hanya diam saja dan langsung berlalu.

Dari sisi pasien dan keluarganya juga sering pasif menunggu. Semestinya, pasien atau keluarganya aktif bertanya kepada dokter atau perawat. Karena sudah hak pasien untuk mendapatkan informasi mengenai penyakitnya dan tindakan yang sedang atau akan diambil untuk mengatasi penyakit tersebut.

Jika faktor komunikasi ini bisa berjalan lancar, maka kecil kemungkinan adanya miskomunikasi. Ujung-ujungnya akan jarang kita temukan kasus tuntut-menuntut antara petugas medis dan pasien.

Rabu, 28 Januari 2015

Dukun Patah dan Dokter

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Ketika seseorang patah tulang, banyak yang lebih memilih ke dukun patah ketimbang ke dokter. Mengapa?

Kalo ke dokter bisa-bisa di operasi. Selain itu, biayanya juga mahal. Belum lagi citra dokter atau rumah sakit yang katanya tidak ramah, mahal, dan lain-lain.

Berbeda dengan kalo ke dukun patah. Pasti tidak di operasi dan biaya bisa dinego. Selain itu, sugesti, sentuhan, dan mantera menjadi sumber keyakinan. Satu lagi, nama besar dukun patah juga sangat berpengaruh. Biasanya terdapat dalam kalimat: “konon kabarnya cuma dielus, dipercikin air, dibalut ramuan, dan sedikit mantera, tulang akan menyambung secara ajaib”.

InsyaAllah Nyambung

Sebenarnya apa yang terjadi pada patah tulang?

Baik ditangani dokter atau dukun, atau bahkan dibiarkan sekalipun, tulang yang patah tetap akan menyambung, asalkan ujung patahan berimpit atau bertemu. Ini merupakan anugerah Allah.

Proses penyambungan alami tulang kira-kira seperti ini:

  1. Pada tahap awal terbentuk bekuan darah di sekitar patahan(hematoma). Tahap ini berlangsung 1-3 hari.
  2. Pembentukan perekat tulang yang terdiri dari serat-serat tulang rawan. Tahap ini biasanya memakan waktu 3 hari sampai 2 minggu.
  3. Perekat tulang mulai mengeras, terjadi antara 2 sampai 6 minggu.
  4. Penyatuan ujung tulang disertai mulai menghilangnya perekat tulang. Proses ini berlangsung hingga 6 bulan.
  5. Penyatuan ujung tulang semakin baik dan akhirnya akan sama dengan bentuk awalnya sebelum patah. Tahap ini berlangsung sampai 1 tahun.

Sekali lagi proses di atas akan berjalan tidak peduli apakah patah tulang ditangani dokter, dukun, atau dibiarkan begitu saja.

Reposisi

Jadi apa fungsi dukun dan apa pula fungsi dokter?

Pada kasus patah tulang, fungsi keduanya sama yaitu melakukan reposisi atau mengembalikan posisi tulang senormal. Setelah itu, tubuh dengan mekanismenya sendiri akan menyambung tulang yang patah tersebut. Tetapi walaupun sama-sama melakukan reposisi, bedanya ada pada teknik reposisi.

Teknik reposisi oleh dukun lebih sederhana, antara lain hanya menarik atau memutar kemudian melakukan fiksasi agar posisi tulang tidak kembali ke posisi tidak normalnya. Selain itu, dukun tidak memakai antinyeri atau obat bius, jadi pasien merasakan sakitnya proses reposisi. *Bisa saja pasien berteriak, “sakitnya tuh di sini”, sambil menunjuk bagian yang patah.* Teknik reposisi dukun patah juga cenderung seragam, tidak peduli dengan jenis atau tipe patah tulang.

Seiring dengan perkembangan teknologi, ada juga dukun yang mengadopsi teknik modern, yaitu meminta foto rontgen sebelum dan sesudah tindakan :). Jadi jangan heran jika ada pasien di UGD, setelah difoto rontgen meminta pulang paksa, dan berpindah tempat perawatan ke rumah dukun.

Teknik reposisi oleh dokter biasanya lebih rasional. Tindakan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan tipe patah tulang. Selain itu, dokter juga mempertimbangkan kerusakan jaringan, pembuluh darah, atau pembuluh saraf di sekitar patahan. Setiap tindakan yang berpotensi nyeri biasanya dilindungi dengan antinyeri atau pembiusan. Sehingga pasien tidak merasakan sakit yang luar biasa.

Dokter Lebih Baik

Jika patah tulang tipe sederhana, misalnya hanya patah di satu tempat dan tidak ada pergeseran tulang, tidak ada luka, atau tidak ada perdarahan dalam, dukun biasanya dapat mengembalikan atau mempertahankan posisi tulang pada tempatnya semula dengan hasil yang hampir sama dengan yang dilakukan dokter.

Tapi jika patah tulang sudah kompleks, misalnya patah di dua atau banyak tempat, ada luka terbuka, ada perdarahan, ada robekan saraf, dukun akan kesulitan melakukan tindakan. Penyambungan tulang, jika ujungnya berimpit, tetap akan terjadi tapi biasanya dengan komplikasi seperti infeksi atau posisi tulang tidak normal. Selain itu waktu penyembuhan berlangsung lebih lama atau timbul pembusukan pada jaringan yang mati yang tidak dibersihkan dengan baik.

Pada kasus patah tulang yang kompleks, dokter umumnya mampu melakukan tindakan lebih baik dengan hasil yang lebih baik pula. Hal ini karena ditunjang dengan keterampilan dan alat yang lebih canggih. Kalaupun tulang tidak bisa dikembalikan ke posisi normalnya, tetap saja hasilnya masih mendingan dibandingkan dengan dukun.

Semoga bermanfaat :)