Minggu, 31 Juli 2016

Pantau Perjalanan Pesawat Kawan dengan FlightRadar24

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Jaman sekarang serba mobile. Dan hal ini membuat hidup jadi lebih efisien.

Misalnya kita lagi menunggu kedatangan seorang kawan. Tinggal telpon, SMS, WA, atau BBM posisinya dimana, maka kita dapat memperkirakan waktu kedatangannya. Sambil menunggu sang kawan, kita dapat mengerjakan hal lain tanpa dihantui pertanyaan apakah ia akan segera datang atau masih lama.

Andainya lagi ada kendala yang dialami kawan tersebut di perjalanan, maka ia dapat segera mengabari kita. Dan kita terhindar dari sikap GG. Gaduh gelisah.

Itu kalo perjalanan yang tercover jaringan telekomunikasi. Bagaimana dengan kawan yang menggunakan pesawat udara? Tentu saja telpon dan segala macam komunikasi tidak bisa lagi diandalkan.

Tapi ada solusinya.

Buka aja situs FlightRadar24.Com, di sana kita dapat memantau secara real time perjalanan pesawat kawan kita. Modalnya hanya nomor penerbangan. Misalnya yang ada di gambar adalah JT524. JT atau LNI adalah kode untuk Lion Air. Garuda GA, Sriwijaya SJW, dan sebagainya.

Info di FlightRadar24 cukup komplit. Ada perkiraan waktu kedatangan, ada data teknis ketinggian jelajah dan kecepatan pesawat, de el el.

Supaya ga penasaran, silakan langsung cek ke TKP.

Sabtu, 30 Juli 2016

Beda Tablet dengan Kapsul

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Memang agak membingungkan.

Apa bedanya?

Tablet adalah obat yang bentuknya padat dan bundar.

Sedangkan kapsul bentuknya lonjong dan berisi serbuk. Pembungkusnya yang lonjong tersebut tidak terbuat dari plastik, tapi gelatin. Pembungkus ini akan mencair di dalam lambung dan serbuk di dalamnya akan keluar.

Ada satu lagi, kaplet. Singkatan dari kapsul dan tablet. Bentuknya lonjong seperti kapsul tetapi padat seperti tablet. Jadi, perpaduan kapsul dan tablet.

Ok deh, mudah-mudahan mulai sekarang dapat membedakan bentuk-bentuk obat.

Jumat, 29 Juli 2016

Buku Biostatistik yang Mudah Dipahami, Menurut Saya

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Sudah bukan hal yang mengherankan jika biostatistik menjadi momok bagi sebagian besar orang. Termasuk saya.

Kenapa?

Banyak rumusnya, panjang-panjang pula.

Tapi konon katanya, kalo ngerti konsep statistik, maka semuanya akan lebih mudah. Tapi sayangnya, saya belum tiba tahap itu.

Nah, ada satu buku biostatistik yang cukup bagus. Bahasanya lumayan enak. Runtut juga. Judulnya Biostatistika, Aplikasi Pada Penelitian Kesehatan. Karangan Mochamad Rachmad, SKM, M.Kes. Terbitan EGC. Jangan tanya belinya dimana, soalnya saya juga pinjam punya perpustakaan kantor.

Buku di atas itu bagus menurut saya. Barangkali Anda para pembaca sekalian juga punya buku biostatistik favorit. Kalo iya, silakan di share di kolom komentar.

Kamis, 28 Juli 2016

Yahoo dijual, Google di Atas Angin

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Yahoo akhirnya dijual, sedangkan Google makin berkibar.

Padahal, Yahoo lebih dahulu 4 tahun mengembangkan mesin pencari, yaitu pada 2000.

Mengapa mesin pencari Yahoo dapat dikalahkan oleh Google?

Mesin pencari Yahoo bekerja mengandalkan manusia. Merekalah yang memilih halaman mana yang layak tayang di halaman hasil pencarian. Pada masa 16 tahun yang lalu hal ini mungkin tidak terlalu masalah, karena halaman internet yang dibuat belum begitu banyak. Beda dengan sekarang, ribuan halaman internet baru tercipta tiap hari.

Lain halnya dengan Google. Mereka mengandalkan algoritma otomatis untuk memilih halaman mana yang relevan dengan keinginan pencari. Algoritma ini cukup rumit. Mungkin ada yang pernah mendengar istilah Humming Bird, PageRank, sampai yang terbaru Google Brain. Tentu saja, dengan algoritma tersebut kemampuan pencarian hanya dibatasi oleh kemampuan komputer server. Yang konon kabarnya ratusan ribu jumlahnya.

Jadi, Yahoo mengandalkan manusia untuk mengerjakan hal teknis dan berulang-ulang, sedangkan Google mengandalkan mesin. Padahal manusia punya rasa lelah, jemu, dan berbagai keterbatasan lainnya.

Perbedaan nasib ini sepertinya sudah pernah juga terjadi, ketika Raja Catur Dunia Kasparov dikalahkan oleh Super Komputer Deep Blue.

Rabu, 27 Juli 2016

Ceramah Favorit di Radio Android

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Salah satu siaran radio favorit saya adalah Ceramah Ba'da Magrib dari Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Waktu tinggal di Aceh ga ada masalah. Tinggal setel radio FM di hp, sudah bisa mendengarkan ceramah tersebut. Setidaknya ada 3 radio yang menyiarkannya, Radio Mesjid Baiturrahman sendiri, Radio Serambi, dan RRI Pro 1 Banda Aceh.

Ketika pindah ke Kalimantan, otomatis siaran FM tersebut tidak bisa lagi diakses.

Belakangan muncul ide mencari streaming onlinenya. Sepertinya radio Baiturrahman belum online, atau berhenti online. Soalnya, taut streaming yang saya dapatkan tak berfungsi. Lalu coba Radio Serambi, alhamdulillah dapat. RRI Pro 1 Banda Aceh rupanya ada juga. Syukurlah, jadi punya alternatif jika salah satunya offline.

Sekarang, tinggal nyari aplikasi android yang ada dua radio tersebut. Atau minimal salah satunya.

Pas buka playstore, ternyata banyak banget aplikasi radio. Terpaksa nyobain satu-satu. Capek juga tekan tombol PASANG dan COPOT.

Akhirnya ketemu juga yang dirasa pas, yaitu RADIO INDONESIA dari Radioworld FM. Di aplikasi ini, Serambi dan RRI Pro 1 Banda Aceh ada. Juga banyak stasiun radio lainnya. Ratusan kayaknya.

Untuk kelancaran streaming, alhamdulillah mulus. Jarang ngelag. Suaranya juga mantap.

Sekarang, saya bisa lagi mendengarkan siaran favorit saya dalam jarak lebih dari 1000 km. Hanya saja sekarang waktunya bukan lagi ba'da Magrib, tapi menjadi ba'da Isya.

Selasa, 26 Juli 2016

Jangan Kambing Hitamkan Pokemon Go

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Pokemon Go
Bagi saya, Pokemon Go itu sifatnya netral.

Sekarang tinggal kitanya. Apakah memainkannya sekedarnya. Sebagai hiburan belaka. Begitu kita harus mengerjakan tugas lain, kita dapat berhenti bermain tanpa ada tekanan psikologis.

Atau larut di dalamnya sehingga lupa dengan kondisi sekitar. Bagi yang muslim mungkin sampai lupa melaksanakan shalat, atau minimal menundanya.

Jika sudah demikian, jangan mengkambinghitamkan Pokemon Go nya. Instrospeksi diri sendiri.

Toh tanpa Pokemon Go, tetap banyak godaan serupa.

Dunia ini kan gudangnya godaan.

Sabtu, 09 Juli 2016

Demam Anak Tak Sembuh-sembuh

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali

Anak masih aja demam padahal sudah dikasih parasetamol, apa ya solusinya?

Kalo penyakitnya cuma batuk pilek, pake aja bawang merah sama minyak.

Caranya, bawang merah diiris-iris lalu masukkan di minyak goreng. Jangan minyak goreng bekas lho. Baluri tubuh anak dengan minyak bawang tersebut.

Biasanya, suhu tubuh anak akan segera turun.

Kamis, 07 Juli 2016

Langsung Pulang Setelah Salam

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Pagi tadi seperti tahun lalu, saya menyempatkan diri Shalat Idul Fitri di mesjid. Karena jamaah banyak banget, maka sampai harus menggelar tikar di jalan raya.

Selepas shalat dua rakaat, khatib naik ke mimbar untuk memberikan khutbah hari raya.

Baru saja imam memulai khutbah, ada beberapa orang mengemas sajadahnya dan beranjak pulang.

Diantara para jamaah, ada yang memandang keheranan pada orang tersebut. Barangkali ada juga yang berpikir, koq pulang, kan belum selesai?

Nah, bagaimana sih sebenarnya hukum tidak mengikuti khutbah hari raya?

Berdasarkan hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud (1155) dan Ibnu Majah (1290), maka pulang setelah imam salam, boleh-boleh saja. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka pergilah”.

Jadi, khutbah hari raya boleh tidak diikuti. Apalagi jika ada keperluan.

Tapi kalau sekiranya kondisi dalam keadaan lapang, sebaiknya menyimak khutbah lebih dahulu. Kan cuma sekali setahun dan itung-itung nambah pahala.

So, jika ada yang pulang dan ada yang bertahan saat khutbah hari raya, disikapi netral aja. Ga perlu jadi sumber perselisihan atau pergunjingan.

Berbeda tidak selamanya harus dalam bentuk polarisasi, dimana satu kubu benar dan kubu yang lain salah. Bisa jadi dua-duanya benar.

Mari saling memaafkan, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H.

Selasa, 05 Juli 2016

Dokter Punya Obat, Dukun Punya Nama

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali

Sudah lumrah, ada orang yang berpandangan negatif terhadap pelayanan kesehatan modern termasuk terhadap dokter. Dan sebaliknya memandang hebat seorang dukun yang konon kabarnya mempunyai ramuan manjur yang bisa mengobati segala macam penyakit.

Hal ini terjadi pula pada penyakit tuberkulosis atau TB. Awam sering menyebutnya TBC.

Pengobatan TB berlangsung lama. Sekitar 6 bulan. Dua bulan pertama fase intensif dan 4 bulan berikutnya fase lanjutan. Di dua bulan pertama, pasien harus meminum sedikitnya 3 macam obat setiap hari. Sangat membosankan memang. Belum lagi rasa tidak nyaman akibat efek samping.

Biasanya, setelah dua bulan, obat anti TB sudah mulai berefek dan menunjukkan perbaikan.

Tapi karena bosan minum obat, pasien berhenti dan memilih berobat ke dukun. Efek obat dokter terus berlanjut. Pasien merasa lebih sehat.

Tapi pasien tidak menyadari bahwa itu efek dari obat yang dia minum. Mereka malah beranggapan bahwa kesembuhan mereka itu karena ramuan dari Mbah Dukun.

Tak hanya sampai di situ. Pasien menggebu-gebu berkampanye bahwa berbulan-bulan ia berobat ke dokter tak ada hasil. Sekali minum obat dari dukun, langsung badan merasa nyaman.

Sehingga berlaku pepatah, dokter punya obat, dukun punya nama.