Senin, 06 April 2020

Masker Kain

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Kontroversi masker kain jahitan tangan akhirnya berakhir.

Awalnya, masker kain dipandang sebelah mata. Memang, secara ilmiah, kemampuan masker ini menahan daya tembus virus corona seukuran satu mikron tak sebaik masker bedah. Apalagi N-95.


Banyak kalangan paham bahwa idealnya semua orang mesti memakai masker yang warna ijo itu. Tapi hal ini tak akan dikampanyekan. Oleh negara manapun. Karena dapat menyebabkan laju permintaan akan melebihi kapasitas produksi. Akibatnya bisa dibayangkan, petugas medis akan kesulitan mendapatkannya dan kalaupun ada harganya bakal selangit ketujuh.

Situasi yang terus memburuk, memaksa orang menggunakan pepatah lama, tak ada tali rotan pun jadi. Salah satu kampanye yang berhasil adalah #Mask4All. Videonya yang diperankan oleh wanita Ceko itu viral kemana-mana. Tampaknya video ini menjadi salah satu cambuk bagi WHO ikut mengkampanyekan penggunaan masker kain untuk semua orang. Trump juga tampaknya setuju, tapi seperti biasa, dia tetap kekeh ga mau pake masker, minimal untuk saat ini. (iChal.Net)

Minggu, 01 Maret 2020

Wudhu Bisa Membunuh Virus Corona?

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Salah satu berita yang dicap hoaks belakangan ini adalah berita mengenai air wudhu dapat MEMBUNUH virus Corona.

Sebelum para Pembaca atau para netizen sekalian mengeluarkan pendapat yang pro maupun kontra, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu proses penularan Penyakit Corona, yang mempunyai nama resmi COVID-19.

Ketika seorang penderita penyakit Corona (baik yang bergejala maupun belum) bersin atau batuk, maka lendir, ingus, maupun ludah yang berhambur keluar kemungkinan besar mengandung Virus Corona. Dalam istilah medis, partikel lendir berukuran mikro tak kasat mata tersebut disebut droplet. Droplet yang ada virusnya ini bisa langsung mengenai orang sehat di sekitarnya (jika jaraknya dekat) atau jatuh di benda-benda di sekelilingnya. Jika orang sehat tersebut daya tahan tubuhnya lemah maka ada kemungkinan dia ikut terinfeksi Virus Corona.

Lalu bagaimana nasib virus yang ada dalam droplet yang jatuh di benda-benda misalnya meja, kursi, gagang pintu, tombol lift, dan sebagainya?

Jika ada orang lain yang menyentuh benda yang terkontaminasi tersebut lalu mengusapkan tangannya ke hidung atau ke mata, ada kemungkinan dia akan ikut terinfeksi. Berdasarkan hal ini maka sangat dianjurkan untuk menghindari kontak dengan benda-benda yang dicurigai mengandung virus Corona. Selain itu juga sangat dianjurkan untuk sering-sering mencuci tangan kalau bisa pakai sabun. Tujuannya adalah agar virus Corona yang kebetulan menempel di tangan secara tak sengaja akan hilang tersapu air atau mati karena sabun. Hal yang juga bisa bermanfaat untuk mencegah penularan adalah hindari menyentuh wajah terutama bagian mata, hidung, atau mulut.

Dari uraian cara penularan di atas dan dari penelitian terhadap virus Corona sebelumnya, kecil kemungkinan atau hampir tidak mungkin air wudhu MEMBUNUH virus Corona. Tetapi proses cuci tangan dan wajah pada saat berwudhu dapat membantu membersihkan virus Corona yang terlanjur menempel di tangan secara tidak sengaja, dan dengan demikian menurunkan resiko untuk terinfeksi Virus Corona. Apalagi jika wudhunya dilakukan sering-sering lebih dari 5 kali sehari.

Demikian, semoga bermanfaat dan marilah kita terus berdoa agar negara kita dilindungi dari musibah wabah virus Corona.

Minggu, 02 Februari 2020

4 Gejala Klasik Tuberkulosis

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Tuberkulosis atau TBC sering luput dari perhatian. Gejalanya dianggap biasa saja karena mirip dengan gejala penyakit umum misalnya batuk pilek. Penderita sendiri sering tidak menyangka bahwa dia sedang menderita penyakit serius ini. Itulah sebabnya penyakit tuberkulosis masih banyak yang tidak ditemukan oleh petugas kesehatan.

Pada artikel ini kami akan membahas mengenai gejala-gejala yang sering timbul pada penderita tuberkulosis yang membedakannya dengan penyakit lain.

Setidaknya ada 4 gejala khas atau gejala klasik yang sering ditemukan pada penderita tuberkulosis. Gejala tersebut yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari, dan berat badan turun.

Batuk kronis diartikan sebagai batuk berkepanjangan yang lebih dari 3 minggu. Batuk terjadi karena adanya kerusakan pada jaringan paru-paru di mana kerusakan tersebut diikuti dengan produksi lendir berlebihan. Secara refleks maka akan muncul reaksi batuk yang berusaha untuk mengeluarkan lendir tersebut. Kadang-kadang kerusakan jaringan paru juga merusak pembuluh darah. Akibatnya darah akan keluar dan bercampur lendir. Inilah yang menyebabkan munculnya fenomena batuk darah pada penderita tuberkulosis.

Demam muncul sebagai akibat reaksi tubuh terhadap infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Berbeda dengan demam batuk pilek yang biasanya tinggi bisa mencapai 40 derajat Celcius, maka demam pada tuberkulosis umumnya tidak terlalu tinggi. Penderita sering hanya merasakan agak meriang, badan rasa tidak nyaman, diikuti sakit kepala. Gejala demam lebih terasa pada sore dan malam hari. Karena gejala demam yang cukup menyiksa ini memicu penderita mengkonsumsi obat pereda demam rutin setiap hari

Keringat di malam hari muncul bersamaan dengan demam. Keringat tetap muncul walaupun penderita tidak melakukan aktivitas fisik. Penderita hanya baring-baring saja tapi tubuhnya sudah berkeringat. Gejala keringat malam juga terjadi hampir setiap malam.

Berat badan penderita tuberkulosis biasanya menurun drastis. Salah satu penyebabnya adalah nafsu makan yang berkurang. Selain itu proses infeksi pada paru-paru juga membutuhkan energi yang banyak. Oleh karena itu penampakan penderita tuberkulosis biasanya sangat kurus dan jika ditimbang beratnya jauh dibawah batas normal.

Selain 4 gejala klasik tuberkulosis di atas juga dapat muncul gejala lain berupa nyeri dada terutama saat batuk atau bernafas, sesak nafas, dan sebagainya.

Semoga penjelasan di atas dapat memberikan pemahaman sehingga kita dapat menemukan atau minimal mencurigai infeksi tuberkulosis baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar kita.